BLITAR RAYA NEWS


Tulungagung – Upaya menekan stunting di Kabupaten Tulungagung didorong untuk dimulai jauh sebelum anak lahir. Pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini, pencegahan anemia pada remaja putri, hingga penguatan peran orang tua menjadi perhatian dalam sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Tanggunggunung.


Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi, S.Pd., M.H. saat menghadiri Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026, di Gedung KPRI Bagus Tanggunggunung, Desa Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jumat (25/9/2026).


Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Rizky Ranisa Nur'atma, S.E., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Jawa Timur Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., Kepala Dinas KBPP & PA Kabupaten Tulungagung Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, serta warga Desa Kresikan dan masyarakat Kecamatan Tanggunggunung.

Nurhadi meminta orang tua tidak melepas pengawasan ketika anak mulai memasuki usia remaja hingga menjelang usia pernikahan.

Menurutnya, pendampingan keluarga diperlukan agar anak memahami kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, serta risiko pernikahan pada usia terlalu muda.

“Menjelang usia nikah ini betul-betul diadakan pendampingan yang masif, yang ketat. Jangan sampai di Tulungagung ada lagi pernikahan dini,” kata Nurhadi.

Ia menilai pencegahan pernikahan dini memiliki kaitan dengan upaya membangun keluarga yang lebih siap, termasuk dalam aspek kesehatan ibu, kehamilan, pengasuhan, dan tumbuh kembang anak.


Kepala Dinas KBPP & PA Tulungagung Kasil Rokhmad menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Tulungagung masih berada di atas 13 persen atau sekitar 2.200 anak.

Menurut Kasil, pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan dan dimulai sejak remaja. Salah satunya melalui pencegahan anemia pada remaja putri dengan pemenuhan kebutuhan zat besi.

“Stunting itu cara mengatasinya mulai dari remaja putri. Kalau nanti keturunannya tidak ingin stunting, sekarang yang SMP, SMA yang putri itu harus minum tablet besi,” jelasnya.

Selain itu, Kasil menekankan pentingnya pemenuhan gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.


Sementara itu, Taufik Daryanto menyoroti perubahan tantangan pembangunan keluarga. Menurutnya, persoalan keluarga kini tidak hanya menyangkut pengendalian kelahiran, tetapi juga kualitas pengasuhan dan keterlibatan orang tua.

Ia mendorong para ayah lebih aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak melalui gerakan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Keterlibatan ayah juga dinilai penting dalam mendukung ibu selama kehamilan dan masa menyusui, termasuk menjaga kondisi psikologis ibu agar tetap baik.


Selain isu remaja, pernikahan dini, dan stunting, sosialisasi juga membahas keberadaan kelompok lanjut usia. Masyarakat didorong agar lansia tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki ruang untuk berkegiatan di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.

Setelah pemaparan materi dari para narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama warga sesuai tema Bangga Kencana. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi interaksi tersebut.

Acara kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini dan anemia, perencanaan keluarga, hingga pemenuhan gizi ibu dan anak.(nng)

Cegah Stunting di Tulungagung, Nurhadi Dorong Pendampingan Remaja dan Pencegahan Pernikahan Dini


Tulungagung – Upaya menekan stunting di Kabupaten Tulungagung didorong untuk dimulai jauh sebelum anak lahir. Pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini, pencegahan anemia pada remaja putri, hingga penguatan peran orang tua menjadi perhatian dalam sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Tanggunggunung.


Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi, S.Pd., M.H. saat menghadiri Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026, di Gedung KPRI Bagus Tanggunggunung, Desa Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jumat (25/9/2026).


Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Rizky Ranisa Nur'atma, S.E., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Jawa Timur Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., Kepala Dinas KBPP & PA Kabupaten Tulungagung Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, serta warga Desa Kresikan dan masyarakat Kecamatan Tanggunggunung.

Nurhadi meminta orang tua tidak melepas pengawasan ketika anak mulai memasuki usia remaja hingga menjelang usia pernikahan.

Menurutnya, pendampingan keluarga diperlukan agar anak memahami kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, serta risiko pernikahan pada usia terlalu muda.

“Menjelang usia nikah ini betul-betul diadakan pendampingan yang masif, yang ketat. Jangan sampai di Tulungagung ada lagi pernikahan dini,” kata Nurhadi.

Ia menilai pencegahan pernikahan dini memiliki kaitan dengan upaya membangun keluarga yang lebih siap, termasuk dalam aspek kesehatan ibu, kehamilan, pengasuhan, dan tumbuh kembang anak.


Kepala Dinas KBPP & PA Tulungagung Kasil Rokhmad menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Tulungagung masih berada di atas 13 persen atau sekitar 2.200 anak.

Menurut Kasil, pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan dan dimulai sejak remaja. Salah satunya melalui pencegahan anemia pada remaja putri dengan pemenuhan kebutuhan zat besi.

“Stunting itu cara mengatasinya mulai dari remaja putri. Kalau nanti keturunannya tidak ingin stunting, sekarang yang SMP, SMA yang putri itu harus minum tablet besi,” jelasnya.

Selain itu, Kasil menekankan pentingnya pemenuhan gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.


Sementara itu, Taufik Daryanto menyoroti perubahan tantangan pembangunan keluarga. Menurutnya, persoalan keluarga kini tidak hanya menyangkut pengendalian kelahiran, tetapi juga kualitas pengasuhan dan keterlibatan orang tua.

Ia mendorong para ayah lebih aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak melalui gerakan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Keterlibatan ayah juga dinilai penting dalam mendukung ibu selama kehamilan dan masa menyusui, termasuk menjaga kondisi psikologis ibu agar tetap baik.


Selain isu remaja, pernikahan dini, dan stunting, sosialisasi juga membahas keberadaan kelompok lanjut usia. Masyarakat didorong agar lansia tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki ruang untuk berkegiatan di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.

Setelah pemaparan materi dari para narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama warga sesuai tema Bangga Kencana. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi interaksi tersebut.

Acara kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini dan anemia, perencanaan keluarga, hingga pemenuhan gizi ibu dan anak.(nng)