Blitar, BlitarRayaNews.com — Pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi harus dimulai dari keluarga melalui pola asuh yang tepat, pemenuhan gizi, serta keterlibatan aktif kedua orang tua. Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026 di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Kamis (15/10/2026).
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H., menekankan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak tumbuh sehat, berkembang optimal, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Perhatian terhadap kesehatan keluarga sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko stunting.
Kegiatan yang berlangsung di halaman rumah Suparno, Dusun Bakung RT 01 RW 03, Desa Bakung, tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pembangunan keluarga yang berkualitas.
Sejumlah narasumber turut hadir, yakni Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Jawa Timur; Ony Irawan, S.Sos., Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas P3APPKB Kabupaten Blitar; H. Zakaria Ansori, anggota DPRD Kabupaten Blitar; serta Suwandi selaku ketua panitia sekaligus tokoh masyarakat.
Dalam pemaparannya, Taufik Daryanto menjelaskan bahwa Program Bangga Kencana atau Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar pengendalian kelahiran.
Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas keluarga dan sumber daya manusia melalui perencanaan kehidupan berkeluarga yang matang, termasuk kesiapan pasangan sebelum memasuki masa kehamilan.
Menurutnya, kesiapan usia, kondisi kesehatan fisik, serta kesehatan reproduksi perlu menjadi perhatian pasangan yang merencanakan kehamilan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan anak secara optimal dan mengurangi risiko gangguan pertumbuhan.
Taufik juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam mendampingi perkembangan anak melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Pengasuhan, menurutnya, merupakan tanggung jawab bersama ayah dan ibu, bukan hanya dibebankan kepada salah satu pihak.
Keterlibatan kedua orang tua berperan dalam membentuk karakter, membangun ketahanan mental, serta mengembangkan kemampuan anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar lebih waspada terhadap persoalan yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga, seperti tekanan ekonomi, buruknya komunikasi antara orang tua dan anak, judi online, pinjaman online, serta perilaku konsumtif.
Taufik mengajak orang tua membangun komunikasi terbuka di rumah dan memberikan pendampingan terhadap penggunaan gawai oleh anak. Masyarakat juga diperkenalkan dengan layanan konsultasi gratis melalui www.siapbahagia.com, yang menyediakan pendampingan dari konselor dan tenaga profesional, termasuk psikolog, bidan, dan dokter.
Sementara itu, Ony Irawan memaparkan bahwa Bangga Kencana bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana.
Untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut, terdapat empat program unggulan yang diperkenalkan kepada masyarakat, yaitu Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), dan Lansia Berdaya (SIDAYA).
GATI mendorong keterlibatan ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak. Peran tersebut dinilai penting dalam mendukung perkembangan akademik, kesehatan emosional, dan pembentukan karakter anak sejak dini.
Berikutnya, TAMASYA berfokus pada peningkatan kualitas pengasuhan melalui dukungan kepada orang tua dan pengasuh, penyelenggaraan kelas pengasuhan, serta penguatan sistem rujukan.
Adapun GENTING mengedepankan semangat gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk BUMN, BUMD, dan sektor swasta, untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Dukungan yang diberikan dapat berupa bantuan nutrisi maupun nonnutrisi, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak berusia di bawah dua tahun. Perhatian terhadap kelompok tersebut menjadi penting karena periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Program keempat, SIDAYA, diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk lanjut usia berusia 60 tahun ke atas. Melalui program ini, lansia didorong agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan memperoleh dukungan kesehatan maupun sosial ekonomi.
Ony juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan posyandu lansia dan Sekolah Lansia melalui kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan Super Apps Indonesia sebagai sarana digital untuk memperoleh informasi, edukasi, dan konsultasi mengenai kependudukan, pembangunan keluarga, serta keluarga berencana.
Sosialisasi di Desa Bakung tersebut menegaskan bahwa pembangunan keluarga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pemangku kepentingan, hingga masyarakat di tingkat desa.
Pencegahan stunting, misalnya, perlu didukung oleh perencanaan kehamilan yang baik, pemenuhan kebutuhan gizi, pola pengasuhan yang tepat, serta perhatian berkelanjutan terhadap kesehatan ibu dan anak.
Di sisi lain, penguatan ketahanan keluarga juga mencakup peningkatan kualitas komunikasi, perlindungan anak, pemberdayaan orang tua, hingga upaya menjaga kesejahteraan lansia.
Melalui Program Bangga Kencana, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya keluarga berkualitas, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program pembangunan keluarga sehingga tercipta keluarga yang sehat, harmonis, mandiri, dan sejahtera serta generasi masa depan yang lebih berkualitas.(nng)
Tulungagung,blitarrayanews — Upaya membangun keluarga berkualitas dan mencegah stunting terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar di GOR Bandil, Desa Gedangan, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur pada pada Senin ( 12/10/20260)
Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H.; Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung, Rizky Ranisa Nur'atma, S.E.; Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes.; Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS; serta tokoh masyarakat Desa Gedangan sekaligus Ketua Panitia, H. Karyono.
Kegiatan ini menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga, pencegahan stunting, pengasuhan anak, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.
Dalam sambutannya, H. Karyono menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut di Desa Gedangan.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting dan upaya membangun keluarga yang sehat serta berkualitas.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar keluarga semakin memahami pentingnya memperhatikan kesehatan, pemenuhan gizi, dan tumbuh kembang anak sejak dini.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga.
Dalam wawancaranya, Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H., menegaskan bahwa pembangunan generasi berkualitas harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga oleh kesiapan keluarga dalam memberikan pengasuhan, perlindungan, dan pendampingan yang tepat.
“Generasi hebat lahir dari keluarga yang hebat, dan masa depan cerah dimulai dari keputusan yang tepat,” menjadi pesan yang disampaikan Nurhadi dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan perencanaan masa depan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Karena itu, pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan, pendampingan orang tua, pengawasan pergaulan, serta penggunaan teknologi secara bijak.
Nurhadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk belajar, meraih cita-cita, dan mempersiapkan masa depan dengan baik.
Menurutnya, keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak sekaligus menjadi fondasi penting bagi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes., menyampaikan terima kasih kepada Nurhadi atas dukungan dan kerja sama dalam penyelenggaraan sosialisasi Program Bangga Kencana di Kabupaten Tulungagung.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pembangunan keluarga dan memperkuat partisipasi berbagai pihak dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendamping, dan masyarakat dinilai penting agar program pembangunan keluarga dapat menjangkau keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, upaya mewujudkan Tulungagung yang bebas stunting diharapkan semakin kuat sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Emas.
Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, menjelaskan sejumlah program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN yang mendorong penguatan ketahanan keluarga.
Program tersebut meliputi Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Lansia Berdaya (Si Daya), serta Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Keempat program tersebut menyasar berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari pengasuhan anak usia dini, pencegahan stunting, pemberdayaan lanjut usia, hingga peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Pertama, Tamasya ditujukan untuk mendukung layanan pengasuhan anak yang aman dan berkualitas, khususnya bagi orang tua yang bekerja. Penguatan layanan pengasuhan diharapkan membantu memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak tetap mendapatkan perhatian.
Kedua, Genting mengedepankan semangat gotong royong untuk membantu keluarga berisiko stunting. Upaya pencegahan dilakukan melalui perhatian terhadap pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan, serta pendampingan keluarga.
Ketiga, Si Daya mendorong para lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki lingkungan sosial yang mendukung. Keterlibatan keluarga dan masyarakat diperlukan agar lansia tetap dapat menjalani kehidupan secara bermakna sesuai kemampuan masing-masing.
Keempat, GATI menekankan pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pengasuhan bukan semata-mata tanggung jawab ibu, melainkan tugas bersama kedua orang tua, termasuk dalam mendukung pendidikan, membangun komunikasi, dan memberikan teladan positif.
Keempat program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain membahas pembangunan keluarga dan pencegahan stunting, Kasil Rokhmad juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan telepon seluler dan media sosial oleh anak.
Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Anak dapat mengakses berbagai informasi melalui perangkat digital, sehingga orang tua perlu memahami aktivitas daring, konten yang dikonsumsi, serta interaksi anak di dunia maya.
Dalam pemaparannya, ia menyinggung kasus di wilayah Tulungagung yang melibatkan dua anak dan berkaitan dengan paparan paham terorisme melalui perangkat digital. Kedua anak tersebut disebut sedang mendapatkan pendampingan untuk proses deradikalisasi.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pendampingan anak tidak cukup hanya dengan mengawasi aktivitas mereka di luar rumah. Orang tua juga perlu memberikan perhatian terhadap penggunaan gawai di rumah, termasuk saat anak berada di kamar.
Pendekatan yang dilakukan, lanjutnya, perlu mengutamakan komunikasi terbuka, edukasi mengenai bahaya konten ekstrem, serta pendampingan penggunaan teknologi sesuai usia dan tingkat kematangan anak.
Dengan demikian, keluarga diharapkan mampu menjadi lingkungan pertama yang memberikan perlindungan sekaligus membangun karakter dan ketahanan anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.
Sosialisasi Program Bangga Kencana di Desa Gedangan menegaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, pemerintah daerah, kader keluarga berencana, Tim Pendamping Keluarga, tokoh masyarakat, dan orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program.
Pencegahan stunting, pengasuhan anak, pencegahan pernikahan dini, pemberdayaan lansia, serta keterlibatan ayah merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan sejahtera.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa masa depan generasi bangsa berawal dari perhatian dan keputusan yang tepat di lingkungan keluarga.
Dengan sinergi yang kuat dan edukasi yang berkelanjutan, program pembangunan keluarga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tulungagung sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas.(nng)
Tulungagung – Upaya menekan stunting di Kabupaten Tulungagung didorong untuk dimulai jauh sebelum anak lahir. Pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini, pencegahan anemia pada remaja putri, hingga penguatan peran orang tua menjadi perhatian dalam sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Tanggunggunung.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi, S.Pd., M.H. saat menghadiri Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026, di Gedung KPRI Bagus Tanggunggunung, Desa Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Rizky Ranisa Nur'atma, S.E., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Jawa Timur Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., Kepala Dinas KBPP & PA Kabupaten Tulungagung Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, serta warga Desa Kresikan dan masyarakat Kecamatan Tanggunggunung.
Nurhadi meminta orang tua tidak melepas pengawasan ketika anak mulai memasuki usia remaja hingga menjelang usia pernikahan.
Menurutnya, pendampingan keluarga diperlukan agar anak memahami kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, serta risiko pernikahan pada usia terlalu muda.
“Menjelang usia nikah ini betul-betul diadakan pendampingan yang masif, yang ketat. Jangan sampai di Tulungagung ada lagi pernikahan dini,” kata Nurhadi.
Ia menilai pencegahan pernikahan dini memiliki kaitan dengan upaya membangun keluarga yang lebih siap, termasuk dalam aspek kesehatan ibu, kehamilan, pengasuhan, dan tumbuh kembang anak.
Kepala Dinas KBPP & PA Tulungagung Kasil Rokhmad menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Tulungagung masih berada di atas 13 persen atau sekitar 2.200 anak.
Menurut Kasil, pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan dan dimulai sejak remaja. Salah satunya melalui pencegahan anemia pada remaja putri dengan pemenuhan kebutuhan zat besi.
“Stunting itu cara mengatasinya mulai dari remaja putri. Kalau nanti keturunannya tidak ingin stunting, sekarang yang SMP, SMA yang putri itu harus minum tablet besi,” jelasnya.
Selain itu, Kasil menekankan pentingnya pemenuhan gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.
Sementara itu, Taufik Daryanto menyoroti perubahan tantangan pembangunan keluarga. Menurutnya, persoalan keluarga kini tidak hanya menyangkut pengendalian kelahiran, tetapi juga kualitas pengasuhan dan keterlibatan orang tua.
Ia mendorong para ayah lebih aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak melalui gerakan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Keterlibatan ayah juga dinilai penting dalam mendukung ibu selama kehamilan dan masa menyusui, termasuk menjaga kondisi psikologis ibu agar tetap baik.
Selain isu remaja, pernikahan dini, dan stunting, sosialisasi juga membahas keberadaan kelompok lanjut usia. Masyarakat didorong agar lansia tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki ruang untuk berkegiatan di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.
Setelah pemaparan materi dari para narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama warga sesuai tema Bangga Kencana. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi interaksi tersebut.
Acara kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada peserta.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari pendampingan remaja, pencegahan pernikahan dini dan anemia, perencanaan keluarga, hingga pemenuhan gizi ibu dan anak.(nng)
Blitar,BlitarRayaNews – Medi Wibawa kembali menjadi perhatian di tengah dinamika politik Kabupaten Blitar. Belakangan, sosok yang pernah menjadi bagian dari panggung politik lokal tersebut terlihat aktif hadir dalam berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Kemunculannya di sejumlah ruang publik kemudian memunculkan pertanyaan. Apakah aktivitas tersebut sekadar bagian dari kiprahnya di masyarakat dan dunia olahraga, atau ada langkah politik lain yang tengah dipersiapkan?
Belum ada pernyataan resmi dari Medi Wibawa mengenai rencana pencalonan maupun agenda politik tertentu. Karena itu, pembacaan mengenai arah politiknya saat ini masih berada pada ranah spekulasi.
Namun, rekam jejak Medi membuat setiap aktivitasnya tetap menarik untuk dicermati.
Medi Wibawa pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Blitar periode 2019–2024 dari Partai Amanat Nasional (PAN). Data yang dihimpun dari dokumen Bawaslu Kabupaten Blitar juga mencatat perolehan suara Medi Wibawa pada Pemilu Legislatif 2019 dari Dapil Blitar 3 sebanyak 9.855 suara.
Namanya juga tercatat dalam daftar calon anggota DPRD Kabupaten Blitar dari PAN untuk Dapil Blitar 3 pada Pemilu 2024.
Belakangan, aktivitas Medi Wibawa terlihat cukup menonjol, khususnya melalui keterlibatannya dalam dunia sepak bola Kabupaten Blitar.
Saat pembukaan Turnamen Sepak Bola Kebonduren Cup 2026 di Kecamatan Ponggok pada 1 September 2026, Medi hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua PSSI Kabupaten Blitar. Ia bahkan memberikan sambutan sekaligus melakukan kick off pertandingan pembuka.
Posisi tersebut membuat Medi tetap memiliki ruang interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama komunitas olahraga dan generasi muda.
Dalam perkembangan terbaru, Medi juga terlibat dalam proses pengelolaan PSBI. Pihak Askab PSSI Kabupaten Blitar menyebut proses pelimpahan pengelolaan klub tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Blitar sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan dan perkembangan sepak bola daerah.
Aktivitas tersebut, tentu saja, tidak otomatis menunjukkan adanya agenda politik.
Namun dalam lanskap politik lokal, intensitas seorang tokoh bertemu masyarakat dan membangun komunikasi lintas kelompok kerap menjadi perhatian.
Nama Medi Wibawa juga pernah muncul dalam pemberitaan seputar Pilkada Kabupaten Blitar 2024.
Ketika itu, sejumlah pemberitaan mengaitkan Medi dengan kemungkinan menjadi pasangan Rini Syarifah atau Mak Rini. Namun, pemberitaan tersebut pada akhirnya tidak menjadi pencalonan resmi Medi dalam Pilkada 2024.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rekam jejak politik Medi Wibawa di Kabupaten Blitar.
Karena itu, ketika aktivitasnya kembali terlihat di berbagai ruang publik, tidak mengherankan jika muncul spekulasi mengenai kemungkinan langkah politik berikutnya.
Pertanyaan yang kemudian berkembang adalah ke mana arah politik Medi Wibawa apabila memang dirinya kembali masuk dalam kontestasi politik.
Jalur legislatif merupakan ruang yang tidak asing baginya. Medi pernah duduk di DPRD Kabupaten Blitar dan sebelumnya juga tercatat sebagai kandidat legislatif dari PAN.
Sementara jalur eksekutif tentu memiliki mekanisme dan kebutuhan politik yang berbeda. Selain pencalonan melalui mekanisme yang berlaku, diperlukan dukungan politik serta komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat.
Tetapi hingga kini belum ditemukan pernyataan resmi Medi Wibawa yang memastikan dirinya sedang mempersiapkan pencalonan tertentu.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah dirinya akan kembali bertarung di jalur legislatif, masuk dalam bursa eksekutif, atau tetap fokus pada aktivitas organisasi dan olahraga masih belum memiliki jawaban pasti.
Dalam politik lokal, kemunculan seorang tokoh di tengah masyarakat memang bisa memiliki banyak makna.
Bisa saja merupakan aktivitas sosial biasa. Bisa pula menjadi bagian dari konsolidasi organisasi, membangun komunikasi, atau sekadar menjaga hubungan dengan masyarakat.
Karena itu, terlalu dini jika setiap kemunculan Medi Wibawa langsung diterjemahkan sebagai sinyal pencalonan.
Yang dapat dipastikan, rekam jejaknya membuat nama Medi Wibawa tetap memiliki kaitan dengan dinamika politik Blitar. Apalagi ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Blitar dan saat ini masih aktif dalam organisasi sepak bola daerah.
Pertanyaan mengenai agenda politiknya pun akhirnya kembali kepada Medi Wibawa sendiri.
Apakah ini sekadar aktivitas seorang tokoh yang tetap dekat dengan masyarakat, atau awal dari langkah politik baru?
Publik masih menunggu jawabannya.(dub)
.jpeg)



