BLITAR RAYA NEWS

 

Tulungagung,blitarrayanews — Upaya membangun keluarga berkualitas dan mencegah stunting terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar  di GOR Bandil, Desa Gedangan, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur pada pada Senin ( 12/10/20260)

Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H.; Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung, Rizky Ranisa Nur'atma, S.E.; Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes.; Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS; serta tokoh masyarakat Desa Gedangan sekaligus Ketua Panitia, H. Karyono.

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga, pencegahan stunting, pengasuhan anak, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Dalam sambutannya, H. Karyono menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut di Desa Gedangan.

Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting dan upaya membangun keluarga yang sehat serta berkualitas.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar keluarga semakin memahami pentingnya memperhatikan kesehatan, pemenuhan gizi, dan tumbuh kembang anak sejak dini.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga.

Dalam wawancaranya, Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H., menegaskan bahwa pembangunan generasi berkualitas harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga oleh kesiapan keluarga dalam memberikan pengasuhan, perlindungan, dan pendampingan yang tepat.

“Generasi hebat lahir dari keluarga yang hebat, dan masa depan cerah dimulai dari keputusan yang tepat,” menjadi pesan yang disampaikan Nurhadi dalam kegiatan tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan perencanaan masa depan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Karena itu, pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan, pendampingan orang tua, pengawasan pergaulan, serta penggunaan teknologi secara bijak.

Nurhadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk belajar, meraih cita-cita, dan mempersiapkan masa depan dengan baik.

Menurutnya, keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak sekaligus menjadi fondasi penting bagi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.


Sementara itu, Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes., menyampaikan terima kasih kepada Nurhadi atas dukungan dan kerja sama dalam penyelenggaraan sosialisasi Program Bangga Kencana di Kabupaten Tulungagung.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pembangunan keluarga dan memperkuat partisipasi berbagai pihak dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendamping, dan masyarakat dinilai penting agar program pembangunan keluarga dapat menjangkau keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, upaya mewujudkan Tulungagung yang bebas stunting diharapkan semakin kuat sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Emas.


Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, menjelaskan sejumlah program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN yang mendorong penguatan ketahanan keluarga.

Program tersebut meliputi Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Lansia Berdaya (Si Daya), serta Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Keempat program tersebut menyasar berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari pengasuhan anak usia dini, pencegahan stunting, pemberdayaan lanjut usia, hingga peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Pertama, Tamasya ditujukan untuk mendukung layanan pengasuhan anak yang aman dan berkualitas, khususnya bagi orang tua yang bekerja. Penguatan layanan pengasuhan diharapkan membantu memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak tetap mendapatkan perhatian.

Kedua, Genting mengedepankan semangat gotong royong untuk membantu keluarga berisiko stunting. Upaya pencegahan dilakukan melalui perhatian terhadap pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan, serta pendampingan keluarga.

Ketiga, Si Daya mendorong para lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki lingkungan sosial yang mendukung. Keterlibatan keluarga dan masyarakat diperlukan agar lansia tetap dapat menjalani kehidupan secara bermakna sesuai kemampuan masing-masing.

Keempat, GATI menekankan pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pengasuhan bukan semata-mata tanggung jawab ibu, melainkan tugas bersama kedua orang tua, termasuk dalam mendukung pendidikan, membangun komunikasi, dan memberikan teladan positif.

Keempat program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Selain membahas pembangunan keluarga dan pencegahan stunting, Kasil Rokhmad juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan telepon seluler dan media sosial oleh anak.

Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Anak dapat mengakses berbagai informasi melalui perangkat digital, sehingga orang tua perlu memahami aktivitas daring, konten yang dikonsumsi, serta interaksi anak di dunia maya.

Dalam pemaparannya, ia menyinggung kasus di wilayah Tulungagung yang melibatkan dua anak dan berkaitan dengan paparan paham terorisme melalui perangkat digital. Kedua anak tersebut disebut sedang mendapatkan pendampingan untuk proses deradikalisasi.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pendampingan anak tidak cukup hanya dengan mengawasi aktivitas mereka di luar rumah. Orang tua juga perlu memberikan perhatian terhadap penggunaan gawai di rumah, termasuk saat anak berada di kamar.

Pendekatan yang dilakukan, lanjutnya, perlu mengutamakan komunikasi terbuka, edukasi mengenai bahaya konten ekstrem, serta pendampingan penggunaan teknologi sesuai usia dan tingkat kematangan anak.

Dengan demikian, keluarga diharapkan mampu menjadi lingkungan pertama yang memberikan perlindungan sekaligus membangun karakter dan ketahanan anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.

Sosialisasi Program Bangga Kencana di Desa Gedangan menegaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, pemerintah daerah, kader keluarga berencana, Tim Pendamping Keluarga, tokoh masyarakat, dan orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program.

Pencegahan stunting, pengasuhan anak, pencegahan pernikahan dini, pemberdayaan lansia, serta keterlibatan ayah merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan sejahtera.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa masa depan generasi bangsa berawal dari perhatian dan keputusan yang tepat di lingkungan keluarga.

Dengan sinergi yang kuat dan edukasi yang berkelanjutan, program pembangunan keluarga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tulungagung sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas.(nng)

Perkuat Ketahanan Keluarga, Nurhadi Dorong Edukasi Bangga Kencana di Tulungagung

 

Tulungagung,blitarrayanews — Upaya membangun keluarga berkualitas dan mencegah stunting terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar  di GOR Bandil, Desa Gedangan, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur pada pada Senin ( 12/10/20260)

Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H.; Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung, Rizky Ranisa Nur'atma, S.E.; Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes.; Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS; serta tokoh masyarakat Desa Gedangan sekaligus Ketua Panitia, H. Karyono.

Kegiatan ini menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga, pencegahan stunting, pengasuhan anak, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Dalam sambutannya, H. Karyono menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut di Desa Gedangan.

Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting dan upaya membangun keluarga yang sehat serta berkualitas.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar keluarga semakin memahami pentingnya memperhatikan kesehatan, pemenuhan gizi, dan tumbuh kembang anak sejak dini.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga.

Dalam wawancaranya, Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H., menegaskan bahwa pembangunan generasi berkualitas harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga oleh kesiapan keluarga dalam memberikan pengasuhan, perlindungan, dan pendampingan yang tepat.

“Generasi hebat lahir dari keluarga yang hebat, dan masa depan cerah dimulai dari keputusan yang tepat,” menjadi pesan yang disampaikan Nurhadi dalam kegiatan tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan perencanaan masa depan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Karena itu, pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan, pendampingan orang tua, pengawasan pergaulan, serta penggunaan teknologi secara bijak.

Nurhadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk belajar, meraih cita-cita, dan mempersiapkan masa depan dengan baik.

Menurutnya, keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak sekaligus menjadi fondasi penting bagi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.


Sementara itu, Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Keuangan Perwakilan BKKBN Jawa Timur, dr. Sofyan Rizalanda, M.Kes., menyampaikan terima kasih kepada Nurhadi atas dukungan dan kerja sama dalam penyelenggaraan sosialisasi Program Bangga Kencana di Kabupaten Tulungagung.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pembangunan keluarga dan memperkuat partisipasi berbagai pihak dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendamping, dan masyarakat dinilai penting agar program pembangunan keluarga dapat menjangkau keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, upaya mewujudkan Tulungagung yang bebas stunting diharapkan semakin kuat sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Emas.


Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Dr. dr. Kasil Rokhmad, MMRS, menjelaskan sejumlah program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN yang mendorong penguatan ketahanan keluarga.

Program tersebut meliputi Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Lansia Berdaya (Si Daya), serta Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Keempat program tersebut menyasar berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari pengasuhan anak usia dini, pencegahan stunting, pemberdayaan lanjut usia, hingga peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Pertama, Tamasya ditujukan untuk mendukung layanan pengasuhan anak yang aman dan berkualitas, khususnya bagi orang tua yang bekerja. Penguatan layanan pengasuhan diharapkan membantu memastikan kebutuhan tumbuh kembang anak tetap mendapatkan perhatian.

Kedua, Genting mengedepankan semangat gotong royong untuk membantu keluarga berisiko stunting. Upaya pencegahan dilakukan melalui perhatian terhadap pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan, serta pendampingan keluarga.

Ketiga, Si Daya mendorong para lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki lingkungan sosial yang mendukung. Keterlibatan keluarga dan masyarakat diperlukan agar lansia tetap dapat menjalani kehidupan secara bermakna sesuai kemampuan masing-masing.

Keempat, GATI menekankan pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pengasuhan bukan semata-mata tanggung jawab ibu, melainkan tugas bersama kedua orang tua, termasuk dalam mendukung pendidikan, membangun komunikasi, dan memberikan teladan positif.

Keempat program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam membentuk generasi yang berkualitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Selain membahas pembangunan keluarga dan pencegahan stunting, Kasil Rokhmad juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan telepon seluler dan media sosial oleh anak.

Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Anak dapat mengakses berbagai informasi melalui perangkat digital, sehingga orang tua perlu memahami aktivitas daring, konten yang dikonsumsi, serta interaksi anak di dunia maya.

Dalam pemaparannya, ia menyinggung kasus di wilayah Tulungagung yang melibatkan dua anak dan berkaitan dengan paparan paham terorisme melalui perangkat digital. Kedua anak tersebut disebut sedang mendapatkan pendampingan untuk proses deradikalisasi.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pendampingan anak tidak cukup hanya dengan mengawasi aktivitas mereka di luar rumah. Orang tua juga perlu memberikan perhatian terhadap penggunaan gawai di rumah, termasuk saat anak berada di kamar.

Pendekatan yang dilakukan, lanjutnya, perlu mengutamakan komunikasi terbuka, edukasi mengenai bahaya konten ekstrem, serta pendampingan penggunaan teknologi sesuai usia dan tingkat kematangan anak.

Dengan demikian, keluarga diharapkan mampu menjadi lingkungan pertama yang memberikan perlindungan sekaligus membangun karakter dan ketahanan anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.

Sosialisasi Program Bangga Kencana di Desa Gedangan menegaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, pemerintah daerah, kader keluarga berencana, Tim Pendamping Keluarga, tokoh masyarakat, dan orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program.

Pencegahan stunting, pengasuhan anak, pencegahan pernikahan dini, pemberdayaan lansia, serta keterlibatan ayah merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan sejahtera.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa masa depan generasi bangsa berawal dari perhatian dan keputusan yang tepat di lingkungan keluarga.

Dengan sinergi yang kuat dan edukasi yang berkelanjutan, program pembangunan keluarga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tulungagung sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas.(nng)