Malang,BlitarRayaNews.com – Tim Riset Fotonik Departemen Fisika, Program Studi S1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan teknologi sensor serat optik untuk mendeteksi ion logam berat tembaga (Cu²⁺) di dalam air. Riset ini menjadi salah satu upaya mendukung perlindungan kualitas sumber daya air dari ancaman pencemaran logam berat.
Penelitian tersebut dilaksanakan melalui skema International Research Network (IRN) yang didukung hibah internal Universitas Negeri Malang Tahun 2026. Tim peneliti memanfaatkan material nanohibrida AgNPs/Arcangelisia flava (L.) Merr. sebagai lapisan aktif pada sensor serat optik guna menghasilkan sistem deteksi yang cepat, sensitif, dan akurat terhadap keberadaan ion tembaga dalam air.
Ketua Peneliti, Nurul Hidayat, Ph.D., menjelaskan bahwa pencemaran logam berat menjadi salah satu tantangan serius bagi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sehingga diperlukan teknologi deteksi dini yang mudah diterapkan.
"Pengembangan sensor serat optik untuk deteksi logam berat berbahaya, khususnya ion tembaga, menjadi salah satu langkah nyata peneliti di bidang fisika dalam turut menjaga kualitas lingkungan. Penelitian ini juga menggandeng peneliti asing, Prof. Dr. Muhammad Bilal Tahir, salah satu ilmuwan terkemuka di Pakistan. Sensor berbasis serat optik menjadi salah satu alternatif metode deteksi ion tembaga dalam air yang cepat dan akurat," ujarnya.
Riset berlangsung sejak April hingga November 2026 dan dikerjakan secara kolaboratif di Laboratorium Fotonik Universitas Negeri Malang serta Khwaja Fareed University of Engineering and Information Technology (KFUEIT), Pakistan. Kolaborasi ini melibatkan dosen dan mahasiswa lintas fakultas dengan fokus mengembangkan formulasi nanohibrida yang stabil sekaligus mengintegrasikannya ke dalam sensor serat optik berperforma tinggi.
Selain menghasilkan inovasi di bidang sensor lingkungan, penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan kualitas air dan pencegahan pencemaran, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi riset internasional dengan Prof. Dr. Muhammad Bilal Tahir dari KFUEIT Pakistan.
Ke depan, tim peneliti akan mengembangkan lapisan pelindung (protective coating) pada sensor guna meningkatkan stabilitas penggunaan di lapangan. Selain itu, sistem sensor juga diarahkan menjadi perangkat portabel (point-of-care) sehingga dapat dimanfaatkan secara praktis oleh masyarakat, industri, maupun instansi yang melakukan pemantauan kualitas air.
Melalui inovasi ini, Universitas Negeri Malang menegaskan komitmennya dalam menghasilkan riset berdampak yang tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi perlindungan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air.(red)

