BLITAR RAYA NEWS – Kebijakan Pemerintah Kota Blitar membuka kawasan wisata Makam Bung Karno (MBK) selama 24 jam nonstop belum genap satu bulan berjalan. Kebijakan tersebut kini mulai mendapat beragam tanggapan dari masyarakat maupun sejumlah pihak.
Sebelumnya, Samanhudi Anwar yang mengatasnamakan Tokoh Aliansi Pecinta Bung Karno (APBK) menyebut kebijakan pembukaan MBK selama 24 jam justru berdampak terhadap masyarakat sekitar. Ia menyebut sejumlah pedagang, tukang becak hingga pelaku usaha penginapan mengalami kerugian.
Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Blitar, M. Romdoni. Menurutnya, klaim bahwa pembukaan MBK selama 24 jam menjadi penyebab kerugian masyarakat dinilai masih terlalu dini untuk disimpulkan.
“Terlalu dini jika Samanhudi menyebut adanya kebijakan MBK dibuka 24 jam tidak memberikan dampak positif atau membuat kerugian bagi masyarakat sekitar,” ujar Romdoni.
Romdoni menilai, pernyataan mengenai kerugian tersebut semestinya disertai data pendukung yang jelas. Menurutnya, angka atau data tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui secara utuh kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Tidak bisa kalau hanya disampaikan mentahan begitu. Harusnya juga disebut angkanya, agar utuh dan bisa dicari penyebabnya. Jangan tiba-tiba mengatakan kalau itu gara-gara MBK dibuka 24 jam,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kebijakan pembukaan MBK selama 24 jam masih relatif baru dan baru berjalan sekitar 15 hari. Karena itu, menurut Romdoni, belum cukup waktu untuk menjadikan kebijakan tersebut sebagai faktor utama yang menyebabkan penurunan pendapatan atau kerugian bagi pelaku usaha di sekitar kawasan MBK.
“Kebijakan itu baru dimulai pertengahan bulan Agustus. Saya pikir belum menunjukkan adanya perbedaan aktivitas pengunjung yang signifikan juga,” lanjutnya.
Romdoni menambahkan, diperlukan perbandingan data jumlah pengunjung sebelum dan sesudah pemberlakuan kebijakan MBK 24 jam. Terutama, kata dia, data mengenai jumlah pengunjung pada malam hari setelah kawasan tersebut dibuka nonstop.
Menurutnya, data tersebut penting untuk melihat apakah terjadi perubahan pola kunjungan wisatawan. Termasuk untuk mengetahui apakah pembukaan MBK pada malam hari benar-benar menyebabkan berkurangnya jumlah pengunjung pada jam operasional pagi hingga sore.
“Perlu tahu dulu aktivitas pengunjung sebelum dan setelah MBK 24 jam. Baru bisa kita lakukan kajian lanjutan untuk menentukan bagaimana efek yang ditimbulkan,” jelasnya.
Romdoni berharap polemik mengenai kebijakan MBK 24 jam tidak dibangun berdasarkan asumsi semata. Ia mendorong seluruh pihak menggunakan data dan kajian yang objektif sebelum menyimpulkan dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakat maupun pelaku usaha di sekitar kawasan wisata.
“Saya pikir begitu. Kita perlu tahu dulu aktivitas pengunjung sebelum dan setelah MBK 24 jam. Baru bisa dilakukan kajian lanjutan untuk menentukan bagaimana efek yang ditimbulkan, jadi tidak asal ngomong dan bukti kosong,” pungkasnya.(BRN)