Blitar, BlitarRayaNews.com — Pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi harus dimulai dari keluarga melalui pola asuh yang tepat, pemenuhan gizi, serta keterlibatan aktif kedua orang tua. Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Wilayah Khusus Tahun 2026 di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Kamis (15/10/2026).
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, S.Pd., M.H., menekankan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak tumbuh sehat, berkembang optimal, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Perhatian terhadap kesehatan keluarga sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko stunting.
Kegiatan yang berlangsung di halaman rumah Suparno, Dusun Bakung RT 01 RW 03, Desa Bakung, tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pembangunan keluarga yang berkualitas.
Sejumlah narasumber turut hadir, yakni Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan Perwakilan BKKBN Jawa Timur; Ony Irawan, S.Sos., Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas P3APPKB Kabupaten Blitar; H. Zakaria Ansori, anggota DPRD Kabupaten Blitar; serta Suwandi selaku ketua panitia sekaligus tokoh masyarakat.
Dalam pemaparannya, Taufik Daryanto menjelaskan bahwa Program Bangga Kencana atau Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar pengendalian kelahiran.
Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas keluarga dan sumber daya manusia melalui perencanaan kehidupan berkeluarga yang matang, termasuk kesiapan pasangan sebelum memasuki masa kehamilan.
Menurutnya, kesiapan usia, kondisi kesehatan fisik, serta kesehatan reproduksi perlu menjadi perhatian pasangan yang merencanakan kehamilan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan anak secara optimal dan mengurangi risiko gangguan pertumbuhan.
Taufik juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam mendampingi perkembangan anak melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Pengasuhan, menurutnya, merupakan tanggung jawab bersama ayah dan ibu, bukan hanya dibebankan kepada salah satu pihak.
Keterlibatan kedua orang tua berperan dalam membentuk karakter, membangun ketahanan mental, serta mengembangkan kemampuan anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar lebih waspada terhadap persoalan yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga, seperti tekanan ekonomi, buruknya komunikasi antara orang tua dan anak, judi online, pinjaman online, serta perilaku konsumtif.
Taufik mengajak orang tua membangun komunikasi terbuka di rumah dan memberikan pendampingan terhadap penggunaan gawai oleh anak. Masyarakat juga diperkenalkan dengan layanan konsultasi gratis melalui www.siapbahagia.com, yang menyediakan pendampingan dari konselor dan tenaga profesional, termasuk psikolog, bidan, dan dokter.
Sementara itu, Ony Irawan memaparkan bahwa Bangga Kencana bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana.
Untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut, terdapat empat program unggulan yang diperkenalkan kepada masyarakat, yaitu Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), dan Lansia Berdaya (SIDAYA).
GATI mendorong keterlibatan ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak. Peran tersebut dinilai penting dalam mendukung perkembangan akademik, kesehatan emosional, dan pembentukan karakter anak sejak dini.
Berikutnya, TAMASYA berfokus pada peningkatan kualitas pengasuhan melalui dukungan kepada orang tua dan pengasuh, penyelenggaraan kelas pengasuhan, serta penguatan sistem rujukan.
Adapun GENTING mengedepankan semangat gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk BUMN, BUMD, dan sektor swasta, untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Dukungan yang diberikan dapat berupa bantuan nutrisi maupun nonnutrisi, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak berusia di bawah dua tahun. Perhatian terhadap kelompok tersebut menjadi penting karena periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Program keempat, SIDAYA, diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk lanjut usia berusia 60 tahun ke atas. Melalui program ini, lansia didorong agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan memperoleh dukungan kesehatan maupun sosial ekonomi.
Ony juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan posyandu lansia dan Sekolah Lansia melalui kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan Super Apps Indonesia sebagai sarana digital untuk memperoleh informasi, edukasi, dan konsultasi mengenai kependudukan, pembangunan keluarga, serta keluarga berencana.
Sosialisasi di Desa Bakung tersebut menegaskan bahwa pembangunan keluarga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pemangku kepentingan, hingga masyarakat di tingkat desa.
Pencegahan stunting, misalnya, perlu didukung oleh perencanaan kehamilan yang baik, pemenuhan kebutuhan gizi, pola pengasuhan yang tepat, serta perhatian berkelanjutan terhadap kesehatan ibu dan anak.
Di sisi lain, penguatan ketahanan keluarga juga mencakup peningkatan kualitas komunikasi, perlindungan anak, pemberdayaan orang tua, hingga upaya menjaga kesejahteraan lansia.
Melalui Program Bangga Kencana, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya keluarga berkualitas, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program pembangunan keluarga sehingga tercipta keluarga yang sehat, harmonis, mandiri, dan sejahtera serta generasi masa depan yang lebih berkualitas.(nng)
.jpeg)
